Monday, December 5, 2016

ALSIN tipw tipe nozzle



Tipe-tipe Nozzle untuk Knapsack Sprayer
Alat penyemprot  (Sprayer) digunakan untuk mengaplikasikan sejumlah tertentu bahan kimia aktif pemberantas hama penyakit yang terlarut dalam air ke objek semprot (daun, tangkai, buah) dan sasaran semprot (hama-penyakit). Efesiensi dan efektivitas alat semprot ini ditentukan oleh kualitas dan kuantitas bahan aktif tersebut yang terkandung di dalam setiap butiran larutan tersemprot (droplet) yang melekat pada objek dan sasaran semprot.
Sprayer adalah alat/mesin yang berfungsi untuk memecah suatu cairan, larutan atau suspensi  menjadi butiran cairan (droplets) atau spray. Sprayer merupakan alat aplikator pestisida yang sangat diperlukan dalam rangka pemberantasan dan pengendalian hama & penyakit tumbuhan. Sprayer juga didefinisikan sebagai alat aplikator pestisida yang sangat diperlukan dalam rangka pemberantasan dan pengendalian hama & penyakit tumbuhan. Kinerja sprayer sangat ditentukan kesesuaian ukuran droplet aplikasi yang dapat dikeluarkan dalam satuan waktu tertentu sehingga sesuai dengan ketentuan penggunaan dosis pestisida yang akan disemprotkan.
            Salah satu bagian sprayer adalah nozzle, Nozzle adalah bagian sprayer yang menentukan karakteristik semprotan ; yaitu pengeluaran, sudut penyemprotan, lebar penutupan, pola semprotan, dan pola penyebaran yang dihasilkan. Nozzle dibuat dalam bermacam-macam disain. Setiap tipe butiran cairan yang khas dihasilkan oleh nozzle yang khas sesuai dengan kebutuhan.
Fungsi utama nozzle adalah memecah (atomisasi) larutan semprot menjadi butiran semprot (droplet)
Fungsi lainnya dari nozzle adalah:
·         Menentukan ukuran butiran semprot (droplet size)
·         Mengatur flow rate (angka curah)
·         Mengatur distribusi semprota, yang dipengaruhi oleh Pola semprotan, Sudut semprotan, dan Lebar semprotan
Tipe-tipe nozzle :
·         –   Centrifugal nozzle : bentuk nozzle yang paling banyak dijumpai, dibuat dengan sudut penyemprotan yang lebar dan dengan berbagai model pola penyemprotan dan kapasitas.

·         –   Flooding nozzle : menghasil semprotan dengan model semburan. Nozzle ini disebut juga fan spray nozzle.

·         –   Two-fluid atomizer : menghasilkan droplet yang sangat halus dan menghindarkan pemborosan cairan, tetapi membuthkan tenaga yang lebih besar daripada tipe-tipe yang lain.
·         –   Rotary atomizer : digunakan untuk pekerjaan besar, menyemprotkan cairan dalam  jumlah besar dengan gaya sentrifugal dan mempunyai pola penyebaran 360o.
Ada beberapa macam nozzle pada sprayer yaitu :
1.      Hallow cone nozzle
Description: Hasil gambar untuk Hollow cone nozzle
Cara yang menarik ke dalam nozzle mengalami pemusingan hingga penyebaran butiran cairannya akan berbentuk cincin. Besar kecilnya ukuran sprayer kecuali ditentukan oleh tekanan yang diberikan juga ditentukan oleh tekanan yang diberikan juga ditentukan oleh jarak pemusingan cairannya.
Makin panjang lintasan pemusingan yang ditempuh, makin besar ukuran spray, tetapi makin kecil diameter penyebaran butiran sprayernya. Keuntungan penggunaan nozzle ini karena dapat diperoleh penyebaran ukuran butiran spray yang seragam.
2.      Solid-cone nozzle
Description: Hasil gambar untuk Solid-cone nozzle
Nozzle ini merupakan hasil modifikasi dari hallo cone nozzle. Prinsip pembentukan spray hampir sama dengan hollo cone nozzle tetapi pada solid cone nozzle diberikan tambahan internal axiat jet yang tepat ukurannya yang akan memukul cairan di dalam nozzle yang sedang berputar.
Dengan pemukulan tersebut cairannya akan menjadi makin turbulance dan aliran cairannya menjadi hancur, meninggalkan nozzle dalam bentuk butiran spray, dengan penyebarannya akan berbentuk lingkaran penuh.
3.      Fan type nozzle
Description: Hasil gambar untuk Fan type nozzle
Type ini dibuat dengan jalan membuat potongan halus atau saluran yang
menyilang permukaan luar dari arifice plate (plat tarikan). Bentuk tersebut menyebabkan cairan yang meninggalkan nozzle akan berupa lembaran tipis seperti kipas, yang kemudian akan pecah menjadi butiran-butiran spray, dengan penyebarannya akan berbentuk elips penuh. Kelemahan nozzle ini mempunyai ukuran butiran cairan yang tidak merata. Terutama pada bagian ujung tepi penyemprotan, terdapat pengumpulan ukuran butiran yang besar-besar. Nozzle tipe ini kebanyakan dipakai pada sprayer bertekanan rendah (20-100 psi) untuk pengendalian herba.

Nozzle sprayer (knapsack sprayer) pertanian selama ini dikenal dengan tipe, yaitu cone nozzle (nozzle kerucut), flat fan nozzle (nozzle kipas) , even flat nozzle, nozzle polijet, dan nozzle lubang empat.
1.      Cone nozzle (nozzle kerucut)
Description: Knapsack sprayer - nozzle kerucut
 Solid cone nozzle menghasilkan semprotan halus. Pola semprotan berbentuk bulat (kerucut). Terdiri dari 2 tipe, yaitu zolid/full cone nozzle dan Hollow cone nozzle.
Solid cone nozze pola semprotan bulat penuh berisi, sedangkan hollow cone nozzle menghasilkan semprotan berbentuk kerucut bulat kosong.
Digunakan terutama untuk aplikasi insektisida dan fungisida.

2.      Flat Fan Nozzle (nozzle kipas standar)
Description: Knapsack sprayer - nozzle kipas standar
 Flat fan nozzle menghasilkan pola semprotan berbentuk oval (V) atau bentuk kipas dengan sudut tetap (65o – 95o). Untuk mendapatkan sebaran droplet yang merata diusahakan melakukan penyemprotan dengan saling tumpang tindih (overlapping). Digunakan terutama untuk aplikasi herbisida, tetapi bisa juga digunakan untuk fungisida dan insektisida

3.      Even Flat Fan Nozzle (nozzle kipas rata)
Description: Knapsack sprayer kipas rata
 Even flat nozzle memiliki pola semprot berbentuk garis. Butiran semprot tersebar merata. Pada tekanan rendah digunakan untuk aplikasi herbisida pada barisan tanam atau antar barisan tanam.
Pada tekanan tinggi, digunakan untuk aplikasi insektisida pada pengendalian vektor. Ukuran butiran semprot sedang hingga halus.

4.      Nozzle Polijet
Description: Knapsack sprayer nozzle  polijet
 Pola semprotan pada dasarnya berbentuk garis atau cerutu. Butiran semprot agak kasar hingga kasar. Tidak atau sangat sedikit menimbulkan drift dan hanya digunakan untuk aplikasi herbisida.

5.      Nozzle lubang empat
Description: Knapsack sprayer - nozzle lubang empat
 Nozzle ini menghasilkan pola semprotan berbentuk kerucut. Butiran semprot halus sampai agak halus (tergantung tekanan). Flow rate tinggi (karena jumlah lubangnya empat) karena itu cenderung boros. Umumnya digunakan untuk aplikasi insektisida dan fungisida.
Sumber : Panut (2009): Teknik Aplikasi Pestisida
Ada beberapa macam nozzle pada sprayer yaitu :

Tuesday, November 22, 2016

LAPORAN PRAKTIKUM Mengidentifikasi sifat kimia tanah (agregat tanah)



LAPORAN PRAKTIKUM
Mengidentifikasi Sifat Kimia Tanah
Agregat Tanah

Disusun oleh:
Setyo Dwi Azhari
15711061



PROGRAM STUDI PRODUKSI TANAMAN PANGAN
JURUSAN BUDIDAYA TANAMAN PANGAN
POLITEHNIK NEGERI LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
TAHUN 2015
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Struktur tanah adalah susunan butir-butir primer dan agregat-agregat pimer tanah yang secara alami menjadi bentuk tertentu yang dibatasi oleh bidang-bidang yang disebut agregat. Tanah yang berstruktur baik akan membantu fungsinya sebagai faktor pertumbuhan tanaman secara optimal, sedangkan tanah yang berstruktur jelek akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan tanaman. Struktur tanah terbentuk dengan jalan penggabungan butir-butir primer tanah oleh pengikat koloid tanah, yaitu koloid liat dan humus menjadi agregat primer.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pemantapan agregat tanah ini yaitu aktivitas organisme di dalam tanah, penutupan tanah karena terdapat tajuk daun si permukaanya dan pengolahan dari tanah itu senidiri. Hal tersebut harus dikurangi sebagai stabilitas agregattanah. Kemantapan agregat sendiri dapat terjadi karena adanya proses flokuasi dan fragmentasi. Kestabilan tanah juga berpengaruh terhadap pori-pori tanah.
Pemantapan agregat tanah sangat penting untuk pertanian serta perkebunana. Tanah denganagregat yang baik pasti akan memberikan kondisi yang baik untuk pertumbuhan tanaman. Akar tanah dapat memengaruhi terhadap daya penahan air sehingga mampu menciptakan lingkungan fisik yang sangat baik. Jika tanah dengan agregat yang kurang stabil makaagregat tanah itu mudah hancur. Nah, butiran halus dari hancurnya tanah tersebut mampu menyumbat pori-pori sehingga terjadilah stabilitas agregat.
B.   Tujuan
·         Menambah keterampilan mahasiswa pada mata kuliah dasar – dasar ilmu tanah
·         Untuk mengetahui kemantapan agregat tanah  terhadap tetesan air.


TINJAUAN PUSTAKA
Agregat tanah ialah Partikel-partikel primer di dalam tanah tergabung dalam suatu kelompok, yang merupakan satuan dasar struktur tanah. Agregat terbentuk diawali dengan suatu mekanisme yang menyatukan partikel-partikel primer membentuk kelompok atau gugus (cluster) dan dilanjutkan dengan adanya sesuatu yang dapat mengikat menjadi lebih kuat (sementasi) (Baver et al., 1972).
Tanah sangat kaya akan keragaman mikroorganisme, seperti bakteri, aktinomicetes, fungi, protozoa, alga dan virus. Tanah pertanian yang subur mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba tersebut. Sebagian besar mikroba tanah memiliki peranan yang menguntungan bagi pertanian, yaitu berperan dalam menghancurkan limbah organik, re-cycling hara tanaman, fiksasi biologis nitrogen, pelarutan fosfat, merangsang pertumbuhan, biokontrol patogen dan membantu penyerapan unsur hara. Bioteknologi berbasis mikroba dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tersebut (Hakim, 1986).
Kemantapan agregat sangat penting bagi tanah pertanian dan perkebunan. Agregat yang stabil akan menciptakan kondisi yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Agregat dapat menciptakan lingkungan fisik yang baik untuk perkembangan akar tanaman melalui pengaruhnya terhadap porositas, aerasi dan daya menahan air. Tanah yang agregatnya, kurang stabil bila terkena gangguan maka agregat tanah tersebut akan mudah hancur. Butir-butir halus hasil hancuran akan menghambat pori-pori tanah sehingga bobot isi tanah meningkat, aerasi buruk dan permeabilitas menjadi lambat. Kemantapan agregat juga sangat menentukan tingkat kepekaan tanah terhadap erosi. Kemampuan agregat untuk bertahan dari gaya perusak dari luar (stabilitas) dapat ditentukan secara kuantitatif melalui Aggregate Stability Index (ASI). Indeks ini merupakan penilaian secara kuantitatif terhadap kemantapan agregat (Santi, 2008)..
Kemantapan agregat tanah yakni rata-rata agregat tanah yang bertahan melawan penggenangan karena air hujan. Agregattanah ini terjadi diawali dengan mekanisme penyatuan partikel primer yang membentuk kelompok bagian dan selanjutnya akan diikat oelh sesuatu yang lebih kuat atau disebut sementasi. Tanah memiliki beribu-ribu organisme yang hidup di dalamnya. 100 juta lebih mikroba per gram tanah pertanian yang subur terkandung dalam tanah pertanian. Mikrobayang hidup di dalam tanah tersebut memiliki banyak manfaat bagi petani. Pasalnya, mikroba-mikroba tersebut dapat menghancurkan limbah organik yang baik sebagai pupuk, mendaur ulang usur hara tanaman, merangsang tanaman untuk serega tumbuh cepat dan lain sebagainya. Jadi, jangan sampai pertanian dan perkebunan mengalami stabilitas agregat tanah yakni gaya perusak tanah dari luar.
Stabilitas agregat sendiri dapat diketahui melalui perhitungan kuantitatif degnan cara ASI atau Aggregate Stability Index. Perbaikan sifat tanah dapat diketahui melalui pembentukan dari struktur tanah itu sendiri. Perbaikan tersebut seperti permeabilitas yang terus diperbaiki. Perkembangan akar tanah secara langsung akan terpengaruh karena perbaikan struktur tanah ini. Akar tanaman yang terdapat dalam tanah kering dengan adanya perbaikan struktur tanah ini akan membuat akar tersebut dapat menyerap unsur hara serta air. Lahan yang kering disebabkan oleh miskinnya bahan organik.
Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pemantapan agregat tanah ini yaitu aktivitas organisme di dalam tanah, penutupan tanah karena terdapat tajuk daun si permukaanya dan pengolahan dari tanah itu senidiri. Hal tersebut harus dikurangi sebagai stabilitas agregattanah. Kemantapan agregat sendiri dapat terjadi karena adanya proses flokuasi dan fragmentasi. Kestabilan tanah juga berpengaruh terhadap pori-pori tanah.


METODOLOGI

A.   Waktu Dan Tempat
                 Tempat praktikum di laksanakan di labolatorium tanah  POLITEKNIK NEGERI  LAMPUNG, pada hari senin, tanggal 16 November 2015 pukul 14.40 - 16.30 WIB.

B.   Alat Dan Bahan
Alat:
·         buret berskala,
·         penggaris
·          petridish
Bahan :
·         sample  Tanah / tanah horizon A dan tanah Horizon B
·         air
·         Kertas merang,


C.   Prosedur Kerja
1.      Isilah buret dengan air sampai batas 0
2.      Hitung radius tetesan air dengan cara mengukur volume 10 tetes air dan di anggap tetesan tersebut berbentuk bulat. Ulangi sampai 5 x dan hitung rata rata nya.
3.      Letakkan sebuah agregat yag berdiameter +  3,5 cm di atas beberapa lapisan kertas merang .
4.      Tetesi agregat terebut dengan air dari buret yang ujung nya berjarak 20 cm dari agregat tanah.
5.      Hitung jumlah tetes air yang di perlukan untuk menghancurkan setiap agregat.



HASIL PRAKTIKUM DAN PEMBAHASAN
A.   Hasil Praktikum
No
Volume
1
0,2m
2
0,2m
3
0,3m
4
0,3m
5
0,3m
Jumlah
1,3m

Jenis Tnah
Diameter Agregat
Jumlah Tetesan Air
Agregat Tanah
Horizon A
0,5 cm
3050
79,3 ml
Horizon B
5 cm
370
9,62 ml

Horizon A
pada kelompok kami sample tanah yang kami dapatkan diameter agregat pada horizon A 0,5 cm, dan agregatnya 79,3 ml, dapat di tembus dengan tetesan air sebanyak 3050, tetes.
Cara menghitung:
Diketahui =0,3m
=
Jumlah tetesan ke =
                        = 305 x 0,26
                        = 79,3 ml
Horizon B
Pada horizon blebih cepat di tembus oleh tetesan air di bandingkan dengan horizo A. Pada horizon A didapat diameter agregat 5cm, jumlah tetesan yang dapat menembus tanah adalah 370 tetes, sehingga didapat agregat tanahnya 9,62.
Diketahui =0,3m
=
Jumlah tetesan ke =
                        = 37 x 0,26
                        = 9,62 ml

B.   Pembahasan
Dari tabel hasil praktikum kami tersebut dapat diketahui bahwa tanah sampel tanah  horizon A  yang kami bawa memiliki tanah dengan ketahanan yang sangat kuat dengan membutuhkan 3050 tetes air untuk membuat tanah utuh tersebut sampai berlubang atau hancur. Hal tersebut menunjukan bahwa sampel tanah horizon A memiliki struktur tanah yang sangat keras sehingga apabila saat  terkena air hujan tidak mudah mengalami erosi karena kemantapan agregat yang cukup tinggi.
Pada sampel tanah  horizon B yang dapat memiliki tanah dengan ketahanan yang rendah di bandingkan pada sample tanah horizon A. Yakni membutuhkan 370 tetes air untuk membuat tanah utuh tersebut sampai berlubang atau hancur.  jenis ini lebih mudah mengalami erosi ketika terkena air hujan, karena tanah jenis ini memiliki kemantapan agregat yang rendah
Kemantapan agregat pada horizon A lebih tinggi dibandingkan dengan horizon B, jadi pada horizon B lebih mudah mengalami erosi dibandinkan dengan horizon A.


KESIMPULAN
Kemantapan agregat sangat penting bagi tanah pertanian dan perkebunan. Agregat yang stabil akan menciptakan kondisi yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Agregat dapat menciptakan lingkungan fisik yang baik untuk perkembangan akar tanaman melalui pengaruhnya terhadap porositas, aerasi dan daya menahan air. Tanah yang agregatnya, kurang stabil bila terkena gangguan maka agregat tanah tersebut akan mudah hancur. Butir-butir halus hasil hancuran akan menghambat pori-pori tanah sehingga bobot isi tanah meningkat, aerasi buruk dan permeabilitas menjadi lambat. Kemantapan agregat juga sangat menentukan tingkat kepekaan tanah terhadap erosI.
Jadi dapat disimpulkan dari hasil praktikum kami bahwa Kemantapan agregat pada horizon A lebih tinggi dibandingkan dengan horizon B, jadi pada horizon B lebih mudah mengalami erosi dibandinkan dengan horizon A.






DAFTAR PUSTAKA
Buku panduan praktikum dasar dasar ilmu tanah pkd 016 oleh :ir iwan gunawan, m.p.
http://tutialawiyahromdony.blogspot.co.id/2011/04/penetapan-kemantapan-agregat-tanah.html
http://www.wikipedia.com.(Diakses tanggal 16 November  2015)